PartII-Editorial/Skandal Zat Berbahaya VS Standarisasi Efektif

Posted: October 13, 2008 in My HomeWork
Tags: , , , , ,

Next…this another part of my “tugas” making editorial…

***********************************************************************************************************

tugas Editorial 01

Skandal Zat Berbahaya VS Standarisasi Efektif

Kembali kasus zat yang tidak baik pada makanan menyeruak. Setelah formalin, kini giliran melamine mengambil bagian. Skandal susu tercampur melamine dengan mengantongi rekor hampir 53 ribu bayi terkontaminasi dan 4 bayi yang dikonfirmasi meninggal akibat gagal ginjal di Cina meresahkan masyarakat.

Pada awalnya Pemerintah melalui BPOM menjamin keamanan bahwa tidak ada susu bermelamin yang beredar di Indonesia. Memang agak meragukan, masyarakat pun sebagai pengguna dibuat bingung sekaligus khawatir dengan issue ini. Walaupun agak terlambat akhirnya BPOM melarang susu bermelamine yang di ketahui di impor dari Cina ini masuk ke Indonesia. Yang sangat disayangkan disini adalah reaksi BPOM yang kurang sigap menanggapi masalah skandal susu ini, apa mungkin karena Pemerintah tengah sibuk menyiapkan pernak-penik PEMILU?

Sebenarnya kalau ditilik ke belakang, kasus-kasus seperti ini sering terjadi dan selalu sama siklusnya. Makanan terkontaminasi zat berbahaya, berita ter-blow up, masyarakat resah akhirnya BPOM turun tangan dan mengetok palu –entah itu klarifikasi ada tidaknya zat berbahaya/ tidak baik atau bahkan penarikan produk dari pasaran. Terkesan bahwa BPOM sering muncul belakangan dan mencerminkan kurangnya antisipasi. Seperti yang kita tahu semua makanan/product yang beredar di Indonesia harus melewati “ gerbang“ BPOM terlebih dahulu atau tersandarisasi. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa standarisasi makanan/produk yang dapat beredar di Indonesia belum efektif. Standar ini harus di kaji ulang atau bahkan di perketat oleh pihak yang berwenang entah itu BPOM atau Pemerintah.

Dengan standarisasi yang efektif dan lebih ketat. Potensi kasus-kasus seperti ini akan dapat di minimalisir kedepannya. Dan hal ini menuntut sikap tegas dan konsisten dari BPOM/Pemerintah itu sendiri. Apabila „gerbang pembuka“ sudah di jaga ketat maka kasus seperti skandal susu bermelamine dapat di tepis lebuh awal, imbasnya masyarakat akan lebih merasa terjamin keamanannya dan meningkatkan citra positif pemerintah di mata masyarakat.

Inspired by;

http://www.detiknews.com/read/2008/09/19/120815/1009038/10/bpom-indonesia-aman-dari-susu-china-bermelamine

http://www.detiknews.com/read/2008/09/22/144556/1010353/10/hampir-53-ribu-anak-sakit-akibat-susu-bermelamine-di-china

http://www.kapanlagi.com/h/0000252631.html

**************************************************************************************************************

tugas Editorial 02

Mutilasi Trend dan Fenomena yang Nyata

Masih ingatkah anda dengan kasus Ryan? Kasusnya sempat menghebohkan publik dibahas dalam media baik cetak maupun elektronik bahkan maya sekalipun,Setelah itu muncul kasus-kasus serupa yang terakhir terungkap beberapa minggu yang lalu, di dalam bus Mayasari jurusan Pulo gadung ditemukan potongan tubuh manusia dalam tas kresek warna merah. Identitas korban masih simpang siur apalagi identitas pelaku.

Kasus mutilasi akhir-akhir ini seperti menjadi tren dikalangan pelaku kriminal. Konon perilaku ini di warisi oleh perilaku hewan dalam mempertahankan hidup meminjam istilah Charles Darwin (1809-1882) Survival for fittest. Siapa yang kuat dja yang menang, untuk bertahan dari seleksi alam singkirkan lawan kalau perlu habisi dengan dengan dicincang. Ekstrim memang tapi begitulah kira-kira pendapat Darwin. Di lain sisi pendapat tentang mutilasi di kemukakan, dari menghilangkan jejak pelaku maupun korban sampai praktek ilmu hitam.

Terlepas dari itu semua mutilasi selalu menjadi fenomena dikalangan masyarakat. Seperti yang dilansir dalam berbagai berita, pelaku mutilasi kebanyakan adalah orang-orang dekat korban. Masyarakat merasa tidak aman. Bayangkan bahkan orang-orang terdekat yang harusnya dapat dipercaya akhirnya bisa melakukan tindakan keji seperti itu. Apakah moral bangsa sudah terpuruk atau karena tekanan ekonomi dan politik yang semakin memburuk?

Dalam hal ini media memberikan kontribusi yang besar dalam menyebarkan informasi ini. Sebuah kasus mutilasi menjadi heboh dan banyak ditiru oleh pelaku kejahatan karena di rasa efektif untuk menghilangkan identitas korban. Media disamping telah membuat masyarakat aware tentang masalah ini, hendaknya juga dapat menenangkan masyarakat.

Pada akhirnya kasus mutilasi akan tetap menajdi tren apabila pelaku kejahatan masih meyakini keefektifan cara ini. Di lain sisi hal ini akan menjadi fenomena atau lebih tepatnya teror tersendiri bagi masyarakat ketika kasus mutilasi belum dapat terungkap. Baik disadari atau tidak rasa aman masyarakat telah di rongrong oleh keeksistensian kasus ini.

Inspired by:

http://www.detiknews.com/read/2008/10/04/200249/1015398/10/polisi-cari-wanita-pembawa-potongan-tubuh

http://www.detiknews.com/read/2008/08/04/125937/982534/10/keluarga-fauzin-tuntut-pencarian-korban-ryan-dilanjutkan

both of above editorial written on 2008.10.12 *****************************************************************************************************************

Notes:

Editorial diatas published untuk keperluan tugas saja, mohon maap apabila ada yang kurang -maklum masih beginner-

_again please be reviewed and give a comment.._

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s