Sore itu langit mendung menggantung
Males bawa payung secara lebih gede daripada lembayung
Nekat aja pulang dengan hati setengah riang
Dan benar saja dijalan hujan turun tanpa ampun
Kita pun berteduh di bawah fly over berjamaah, menunggu bis datang
Tertahan karena hujan
Tapi sudah lama gak muncul – muncul juga bis nya
Trans Jakarta penuh, taksi juga tanggung sekali
Akhirnya nekat lagi dengan setengah hati
Hujan-hujanan dipinggir jalan yang tidak lenggang
Untungnya ketemu ojek payung
Aniwe baru kali itu aku memakai jasa ojek payung
Pengojeknya anak laki-laki masih SMP kelas siji
Bapak seorang petugas sampah dan ibunya stay di rumah
Rumahnya seberang kuningan arah mampang prapatan emang biasa ojek payung kalau lagi hujan
Katanya lumayan buat jajan,
Gak mau ikut berteduh dibawah payung gak pakai sandal basah kuyup
Katanya kalau ojek payung emang harus gak takut ama hujan ataupun sakit
Hmmm ternyata ada kode etik seorang pengojek payung
Walaupun kedinginan –kykna- setiap kutanya dia selalu ngasih jawaban di awali senyuman atau bahkan pringisan…lumayan manis..senyum ramah dan lugu gitu
Dia bahkan puas banget dengan ongkos yang kuberikan ditimpalinya dengan senyum ramah yang sumringah
Kemudian pamit pulang karena hujan juga sudah mulai menghilang
*kadang kita kurang bersyukur dengan hasil yang kita dapatkan, masih merasa kurang dengan apa yang telah diberikan. Padahal sudah seharusnya kita mensyukuri segala yang kita miliki karena masih diberi kesempatan untuk memilikinya…*

